Postingan

Menampilkan postingan dengan label hikmah

Sudah Wisuda. Terus? [Part 2]

Gambar
Okay. Lanjut ke Part 2. Setelah kupas tuntas komentar saya yang nggak penting di bagian pertama , sekarang mari kupas tuntas komentar saya terhadap kalimat kedua dari kalimat: "Ini adalah langkah awal menuju perjuangan yang sesungguhnya, teh. Doakan kami semoga kami bisa segera menyusulmu :)" Doakan kami bisa segera menyusulmu. Eum.. gimana ya, bukannya nggak kepingin mendoakan agar kalian bisa cepet wisuda, bukan. Mungkin kalau mendoakan, saya lebih memilih mendoakan yang terbaik untuk kalian, adik-adikku. Kemarin kakak kelas saya ada yang update status begini: Hidup ini adalah perjuangan, perjuangan agar tetap dalam ketaatan kepada Allah (Musthafa Umar) From < https://www.facebook.com/rini.aprilia.54?fref=ts > Terus ada yang posting beginian juga: Lantas, hal apa yang membuat kita tidak bersyukur? Hayuu wujudkan bentuk rasa syukur kita, dengan membenahi hijab kita dan menjaga batasan-batasan Allah. Sebelum datang masa dimana kita su...

Sudah Wisuda. Terus? [Part 1]

Gambar
"Ini adalah langkah awal menuju perjuangan yang sesungguhnya, teh. Doakan kami semoga kami bisa segera menyusulmu :)" Saya melongo sebentar membaca kalimat-kalimat di atas. Kalimat yang tertata manis dalam sebuah cinderamata dari adik-adik kelas di organisasi kampus. UKM BAQI UPI, tahu kan? Itu lho, organisasi yang para anggotanya berkomitmen memberantas buta huruf Al-Quran di kalangan mahasiswa. Nggak kenal? Padahal saya yakin mereka orangnya kece-kece abis. Yah, memang sih mereka terlalu rendah hati. Ah, lupakan. Hari ini saya mau nulis tentang komentar saya mengenai kalimat di atas. Emang sebenarnya komentar saya nggak penting juga sih, tapi entah kenapa kalau baca kalimat di atas berulang-ulang rasanya ada suatu hal yang saya pikirkan di otak dan bisa gawat kalau tidak dikemukakan. Ya ampun, Fi..kapan masuk ke inti sih? Oh, oke, mari kita mulai..

Bahasa dan Ide Menguasai Dunia

Gambar
“Dan kita pun MENGUASAI DUNIA!! HA HA HA!!” Fairuz sejurus terdiam dengan tangannya lima senti lagi hendak memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Sambil telinganya terjaga untuk mendengar setiap kalimat yang keluar dari televisi, ia perlahan mengunyah sarapannya pagi itu. “Jangan takut! Aku adalah pembela kebenaran!” setelah itu sound effect CIAT! CIAT! pun mengikuti adegan superhero melawan kejahatan. Adegannya seru, dan pastinya superhero pada akhirnya menang. --- Secara pribadi, dialog “Akan menguasai dunia,” ini sering saya dengar dari berbagai kartun yang pernah saya tonton. Sudah tidak aneh. Bahkan lama-lama saya jadi parno karena illuminati yang dari dulu melaksanakan misi rahasia lewat kartun anak-anak. Jangan-jangan ‘Akan menguasai dunia’ adalah pesan mereka secara tidak langsung bahwa mereka memang benar-benar akan menguasai.” Nah. Sebelum mereka yang menguasai dunia, saya lebih baik yang menguasai dunia terlebih dahulu. Haha. Entah kenapa di akhir saya be...

Khalifah #2 Belajar Berkompetisi dari Si Kembar

Gambar
Well, ini catatan lama yang baru bisa diposting sekarang. Cerita tentang sepasang santriku yang keren banget. Tahun Baru Hijriah tak kalah meriah kami rayakan di sekolah dengan semangat berkompetisi. Meski terkesan sangat dadakan, memang secara tiba-tiba mulai hari Senin ba’da dzuhur hingga Selasa malam para santri sibuk berpartisipasi dalam berbagai lomba. Lombanya cukup bayak, yaitu pidato, puisi, cerdas cermat, MHQ, MTQ, Kaligrafi, dan memasak. Bayangkan betapa ramainya acara ini, karena jika dihitung seluruh santri yang kami miliki ini hanya berjumlah sekitar 80-an orang, jadi siapa saja yang tidak berpartisipasi dalam lomba bisa kelihatan.

Japan! #1 Belajar Tawakkal dari Orang Jepang

Gambar
Di segmen Japan! ini saya akan berbagi kepada para pembaca mengenai hal-hal tentang Jepang beserta hikmah yang bisa kita ambil. Saya mulai dengan ini: Kertas di atas tertempel di setiap kelas di tempat saya mengajar. Sebagai tenaga pengajar yang baru, saat 見学  ken-gaku (observasi) ke beberapa kelas, dibanding melihat cara guru yang sudah ada mengajar, saya lebih tertarik membaca tempelan-tempelan yang berjejer rapi di dinding setiap kelas. Kanjinya mudah dibaca, cuma kanji setelah huruf 感 ( kanjimasu ) itu agak menganggu saya karena terlalu banyak coretannya (hehe). “Sensei merhatiin apa?” guru kelas tersebut tiba-tiba menegur saya. “Ano, itu.. kanji kansha bukan ya?” “Ya.” “Artinya bagus ya.” “Ya. Itu sachou-san yang buat.” (sachou:kepala perusahaan) Saya manggut-manggut senyum, kini saya mengerti maksudnya. Ah, entah mengapa saya merasa menemukan inti dari hidup saat membacanya. Penasaran?? Saya akan bahas setiap kalimatnya.

My Day #13 Indonesia Berubah! Henshin!!

Gambar
After effect baca bukunya @maswaditya bawaan adik. Judulnya agak nyeleneh, nambah butir Pancasila dengan Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati! Tiap habis baca buku ini, meski bacanya nggak berurutan, entah kenapa 10 menit pertama tuh efek sampingnya dahsyat banget. Mulai dari nyari kertas, corat-coret sesuatu yang sesuatu banget, sampai ide bikin gerakan #IndonesiaBerubah ini tercetus. Nggak jauh beda dengan pemikirannya mas waditya yang yakin sebenernya semua orang itu bisa kreatif, termasuk orang-orang Indonesia, cuma pada malas aja, termasuk saya, hehe. Dan paginya disuguhi artikel terbaru mba murniramli (mas dan mba ini bener-bener jadi inspirasi saya). Tahukah anda bahwa ada sebuah SD di Jepang yang menerapkan target membaca untuk murid-muridnya sebanyak 10000 buku pertahun? Kalau diitung-itung 10.000 buku coy, dibagi 12 bulan.... 833 buku perbulan! Dibagi lagi 30 (perhari) jadinya...itung aja sendiri, saya aja langsung nelen air 1 galon.

Ini tentang Ekspresi

Saya baru tahu kalau saya orangnya ekspresif. ‘Ekspresif’ di sini maksudnya raut wajah muka saya bisa mengekspresikan emosi yang berbeda-beda secara JELAS. Adalah salah satu murid saya ketika menuliskan kesan untuk saya selama mengajar di kelasnya menuliskan hal yang menurut saya menarik dan belum pernah saya dengar, “Sensei, kalau udah kesel mukanya keliatan.” Wah? Wah? saya jadi langsung meneliti raut muka saya sendiri. Jangan-jangan dari raut muka yang tidak bisa saya kontrol ini bisa melahirkan musuh dari orang-orang terdekat. Dan begitu saya tanyakan perihal ini kepada sahabat saya, dia dengan cepat mengangguk, “Iya, Fi. Ekspresi Afi itu keliatan jelas.”

PPL: Siswa, Gadget, dan Kekuatan Lapar

Bukankah manusia itu mengerikan? Mereka selalu menganggap diri mereka paling benar, padahal antara  manusia yang satu dengan yang lainnya pendapatnya tak jarang berbeda bagai dua sisi mata uang. Kuharap aku adalah gunung yang pada hari kiamat nanti menuruti komando Israfil untuk beterbangan di langit dan membuat manusia takut. Yah, kita kesampingkan soal itu, kalimat-kalimat di atas hanya unek-unek pagi dari otak yang sedang eneg. Kali ini saya akan berbagi cerita tentang keseharian saya selama PPL. Hari-hari di mana saya menemukan banyak hal-hal istimewa yang membuat saya bertasbih dan beristighfar.

Ujian PPL : What exactly am I Worrying About? Part 2

Gambar
This is d-Day. Day of war. Haa, begitulah kira-kira pikiranku sehari sebelum ujian. Seperti yang kuceritakan sebelumnya, pada mulanya aku merahasiakannya dari para siswa kelas X9 bahwa aku akan ujian di sana. Namun setelah dipikir-pikir, pasti mereka akan marah begitu tahu Afi Sensei membohongi mereka dan membawa 3 orang guru ke dalam kelas untuk memperhatikan mereka, akhirnya aku memberitahukan mereka di hari Senin.

Ujian PPL : What exactly am I Worrying About? Part 1

Gambar
Rabu 8 Mei tepatnya, aku ujian PPL. Disebut ‘ujian’ pun sebenarnya hanya ngajar seperti biasa, cuma bedanya: ada jurinya. Takdir mengharuskanku ujian di kelas yang paling ‘wah’. Jika dibandingkan dengan kelas lain yang kuajar, kelas ini punya memori istimewa dalam hatiku (ceilee), selain anak-anaknya cerewet abis, dulu saat awal PPL ada beberapa orang siswa laki-laki yang berani ‘ngeloyor’ keluar kelas di tengah aku menerangkan materi pelajaran. Ngeloyor begitu aja, tanpa bilang sepatah kata pun, melewatiku yang akhirnya terbengong-bengong di depan kelas *iniciyus*. Tak hanya itu, ada seorang siswa yang bahkan santai jalan-jalan mencontek saat ulangan dan beberapa ocehan ‘kebun binatang’ yang mengiringi respon mereka terhadap materi yang kusampaikan, yang tentunya, sempat bikin ngelus dada dan istighfar banyak-banyak setiap keluar dari kelas itu. Tapi praise to Allah yang telah membolak-balikkan hati, setelah beberapa kali tatap muka dan memberikan pendekatan individu sec...

Hari ini tentang Angkot

Gambar
Tidak seperti kebanyakan film buatan manusia yang selalu bisa ditebak akhirnya, Sebagai Sang Sutradara-Produser-Direktur, Allah selalu menjadikan hari-hari tak selalu sama dengan tebakan di akhirnya Foto di daerah Jebrod, Cianjur :D Selalu ada yang menarik dari perjalanan sederhana saya ke kantor PKPU di Surapati Core. Dari kampus hanya dengan 1 kali naik angkot Caheum-Ledeng saya bisa tiba di Surapati Core setelah membayar lima ribu rupiah dengan waktu tempuh 1 jam. Perjalanan sebelumnya, saya sempat diturunkan paksa saat angkot sudah mencapai Cikutra, kesal memang, tapi sang supir berbaik hati mengurangi beban ongkos saya (hehe). Lalu sepulang dari sana, saya naik angkot yang rupanya sang supir sedang membawa serta istri dan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil. Jadilah saya serasa menonton keluarga cemara versi angkot :) Lalu hari ini, baik saat perjalanan pergi dan pulang, banyak hal menarik yang terjadi di dalam angkot.

My Day #7 Mikroskop Berjalan

Gambar
Seseorang pernah bilang, hiduplah dengan santai, jangan tergesa-gesa, nikmati segala ciptaan-Nya. Ratusan awan yang berlayar pelan di lautan langit, bulan yang memudar bergantian kerja dengan matahari, dan pohon-pohon yang menyegarkan mata. Dunia ini sudah begitu indah, maka akhirat pasti akan lebih indah lagi. Aku, suka jalan kaki. Seperti kalimat yang pernah Dewi Lestari goreskan dalam kumpulan cerpennya, berjalan kaki itu bagaikan miksroskop, menilik setiap sudut yang kita tidak pernah membayangkan ada sebelumnya padahal selama ini dia ada. Teman-temanku bahkan kebanyakan tak sadar bahwa, di Jalan Setiabudhi ada 1 jembatan penyeberangan yang terhalang papan reklame. Dan aku pernah sengaja memiliki misi untuk melewatinya, merasakan bagaimana naik jembatan penyeberangan yang jarang digunakan orang, dan takjub ketika melihat dari atas kendaraan yang lewat sambil kaki gemetar karena takut ketinggian. Setelahnya, pejalan kaki yang ada di sekitar jembatan terheran-heran melihat...

My Day #6 DIJEMPUT

Gambar
Hah, nggak banget deh ini judul. Yah, ini pun hasil pemikiran saya, nyampe botak kalau bisa, tema kali ini : Dijemput. Sebelum ke menu utama, mari kita cicipi appetizer dulu dari saya, ini fotonya : Cappucino with granule chocolate Granule, atau apalah itu namanya, meleleh di atas cappucino yang disajikan panas. Begitu diseruput hangat, terasa sekali lelehan coklatnya lumer di mulut. Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai itu nikmatnya kayak apa ya? Kalau hanya karena cappucino ini saja saya bisa bahagia, apalagi kelak di surga, air sungainya bisa milih : mau anggur, susu, krimer, atau apapun tinggal minta sama Sang Pencipta . Tapi  itu cuma sesaat. Rasa nikmat seruput coklat itu cuma sesaat. Malah dari kenikmatan semu ini semuanya bermula. Semua hal-hal buruk. Termasuk dijemput.

Kol Buntung

Pernah naik kol buntung? Naik di sini maksudnya duduk di belakangnya itu lho. Pasti semuanya pernah merasakan angin sepoi-sepoi saat duduk di sana sambil mobil melaju kencang. Ya, saya pun pernah beberapa kali. Saat kecil, ketika seusai pulang sekolah agama di sore hari dan kami—saya dan teman-teman—tidak punya ongkos untuk naik delman atau ojeg, kami biasa naik, ehm, tepatnya ‘nebeng’ kol buntung yang biasa mengangkut beras ke pasar, lalu kami ‘bertengger’ di atas karung-karung beras yang bertumpuk, dan saat itu tumpukan karung berasnya tampak sangat tinggi, sehingga kami bisa asyik melihat jalanan dari ‘atas’ sambil berpegangan erat karena takut jatuh.  Pun kemarin, saat usia saya menginjak tingkat 4 kuliah, saya berkesempatan menikmati asyiknya ‘nebeng’ kol buntung lagi. 

My Day #5 DEWASA

Yang dari awal ngikutin My Day pasti heran kenapa dari Chapter 3 lagsung loncat ke Chapter 5? *pede abis. Yah, anggap Chapter 4 itu chapter yang hilang, sebenarnya saya sudah menulis Chapter 4 di laptop, tapi entah kenapa setelah dibaca ulang, lebih baik tidak dipublikasikan. Dan, biar senada dengan tema, kita anggap saja Chapter 4 itu sebagai chapter loncatan menuju kedewasaan#hah. Tema kali ini : Dewasa. Menurut kalian, apa itu dewasa? Terkadang saya rada aneh sama istilah ini. Waktu kecil, orang tua sering berkata, “Ih, Afi udah dewasa,” ketika saya mengalah di pertempuran memperebutkan mainan bersama adik. Waktu kecil ketika ingin mendengar pujian mamah, caranya cukup simpel : mengalah saat bertengkar, dan itu cukup membuatku disebut ‘Dewasa’.

Purezento

Karena kangenku pada adik-adik sudah hampir mendekati stadium akhir, mendadak jadi pingin cerita soal ini. Buat yang nggak suka dengerin curhat, dilarang keras melanjutkan membaca tulisan ini, atau prinsp kamu bakal goyah#tsah Judul : Air mata abu-abu Waktu itu kelabu, mendung menghiasi langit kota cibeber di sore harinya. Seperti hari-hari liburan lainnya, aku menghabiskan waktuku dengan bersantai bersama keluarga, membicarakan hal yang ringan-ringan, dari mulai soal 4 kawanan kucing kecil yang berlarian di dalam rumah, hingga efek pasar saham terhadap stabilitas perekonomian dalam negeri. Adikku si bungsu, Thoriq, dari pagi memang sudah tidak terlihat batang hidungnya. Efek dari orang yang sosial skillnya bagus adalah : punya bayak teman, jadi adikku yang satu ini dari pagi berkunjung ke rumah temannya, agak jauh dari rumah, naik ojeg. FYI, adikku yang bungsu ini sekarang kelas 1 SMA.

21! Dan betapa tuanya gue :D

Entah judul di atas apa masih pantas saya tulis, berhubung ada kata 'gue' nya. Dan kata-kata 'gue' cuma ada di kamus anak-anak muda. Lalu di hari ini, di mana umurku kepalanya sudah dua, ditambah angka satu, buat yang matematikanya agak bodoh : umurku hari ini tepat 21! dua-satu! And I'm not young anymore.. Aku tua! Ketika di Jepang dengan umur 20 tahun berarti udah dapat lisensi untuk minum-minum, merokok, dan punya SIM. Aku, dengan titel 21 tahun ku, merasa belum pantas buat dapat lisensi mencapai umur yang berkah. Astaghfirullah. Asal kalian tahu, dua hari terakhir menuju kesempurnaan 21-ku, aku terkapar lemah di mana-mana (di kasur, di lantai, di mana-mana), dan aku merasa menjadi manusia tak berguna! (thanks to Gunung Padang, Megalitikum made me so weak!) Yah, ehm, kita tinggalkan sesi mencurhat di atas, back to judul : betapa tuanya gue. Gue tua. Ya udah. END. NB : happy milad for me! :D just keep tryin!...

Kotoba #1 Shame on you!

Gambar
Bismillah. Well, this is my new category at my blog : KOTOBA . Kotoba dalam bahasa Jepang berarti 'kata' ditulis dengan kanji 言葉 (kotoba). Di segmen ini saya (kalau tulisannya rada ilmiah, saya akan menggunakan sebutan 'saya' bukan 'aku' .. haa) akan mencoba mentaarufkan*lhoo,,maksud saya memperkenalkan kotoba-kotoba dalam bahasa Inggris maupun bahasa Jepang yang sempat bikin saya penasaran. #1 Dan di episode pertama ini, saya awali dengan basmalah, ekh, sebuah kata dari bahasa Inggris : Shame on you . Saya tidak ingat jelas bagaimana kata shame on you  ini bisa bikin saya penasaran, yang jelas waktu itu saya sedang nonton film berbahasa Inggris yang disiarkan di salah satu TV swasta pada malam hari. Kalau nggak  salah judul filmnya Kungfu Hustle yang saya tonton sambil menemani saya berperang melawan kecoak yang berterbangan :D. "Shame on you!" ujar salah satu pemeran dalam film tersebut. Saya yang englishnya masih rada-rada, menilik ke s...

My Day #3 Never Stop Dreaming

Gambar
Mimpiku dicuri.  Suatu ungkapan yang hanya bisa dikemukakan oleh pecundang sepertiku yang merasa ngiri liat mimpinya satu persatu dikabulkan oleh Allah, tapi bukan lewat diriku sendiri, lewat orang lain, tepatnya adikku sendiri. Yah, episode ini bisa dibilang rada mencurhat, tapi itu bukan maksud utamaku. I just wanna say it loud that :  "Keep Dreaming! Because ur dream is always come true! Meski come true nya itu bisa jadi bukan lewat kamu, tapi anak-anakmu, atau bahkan cicitmu." -afie amaliya

Kapiten Pattimura yang Sering Masuk Masjid

Gambar
Kenyataan menggelitik tentang kondisi sedekah kita Ketika saya mengikuti seminar dengan Pemateri Ust. Kemas Mahmud di Masjid Al-Furqon UPI dalam Pesantren Mahasiswa di bulan Ramadhan kemarin, beliau menuturkan, bahwa, bersikap hemat bukanlah satu-satunya cara untuk menjadi kaya. Lho? “Hemat mungkin bisa meminimalisir pengeluaran kita, tapi tidak bisa membuat harta kita bertambah,” tutur beliau. Lalu cara yang bisa menambah rezeki kita? Sedekah. Islam mengajarkan untuk senantiasa menyisihkan sebagian hartanya (baca:bukan sebagian kecil) untuk diberikan kepada yang lebih membutuhkan atau disalurkan di jalan Allah. Dengan sedekah, kita berusaha membersihkan harta kita, dan dengan begitu insya Allah menjadi berkah. Kisah nyata yang dialami oleh seseorang yang saya kenal, ketika beliau melihat dompet, uang beliau tinggal 12 ribu lagi, dan entah mungkin karena takdir-Nya, sesaat setelah melihat dompetnya yang tipis itu, di depannya ada seorang pengemis, lalu beliau dengan yakin akan ada p...