Postingan

My Day #16: Bicara Cinta (lagi)

Gambar
Menyambung dengan definisi cinta versi saya di tulisan kemarin , rasanya akan bisa dipahami lewat kisah cinta melegenda Fatimah dan Ali. Cerita cinta mereka rasa-rasanya membuat yakin orang-orang yang menyimpan rapat dalam-dalam rasa cintanya kepada seseorang bahwa pada akhirnya usaha mereka akan berbuah manis. Dikisahkan keponakan Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib memendam rasa cintanya kepada sepupunya sendiri, Fatimah binti Rasulullah. Rasa cintanya ini tak pernah ia ungkapkan kepada siapapun, hingga ia memutuskan akan meminang langsung Fatimah sebagai istrinya di saat yang tepat. Namun, ujian bagi cintanya sudah dimulai ketika terdengar olehnya bahwa Abu Bakar Ash-Shidiq, sahabat Rasulullah yang keimanannya lebih berat dibandingkan keimanan ummat muslim jika disatukan, datang melamar putri Rasulullah tersebut. Ah, dibanding Abu Bakar, ia tentu tidak ada apa-apanya. Jadilah untuk sesaat ia merelakan dalam hati, mundur dari arena pertarungan, melesatkan ikhlas untuk Fat...

My Day #15: Bicara Cinta

Gambar
Tumben saya nulis tentang cinta, ya? Haha Intermezzo , saat iseng ambil quiz bertajuk,  "What gender is your brain?"  Hasil yang saya dapat cukup membuat saya istighfar. 57% Male, 43% Female Ini hasil apa-apaan coba T.T Yah, masih seimbang lah. (lhooo…ini bukan sesuatu hal yang harus disyukuri!) Mungkin kedua adik laki-laki saya ada andil mengapa hasilnya seperti itu, haha. Oke, lupakan. Next . Bicara cinta, definisinya bisa berjuta. Dari yang paling sederhana: merasakan debaran kalau bertemu doi, hingga yang tak logis: tak harus memiliki. Yang tak logis ini saya temukan kata padanan sehari-harinya: Ikhlas. Dulu waktu zaman SMP saya pernah membuat puisi yang isinya kurang lebih memproklamasikan bahwa saya tipe orang yang mudah jatuh cinta. Karena waktu itu istilah 'cinta' menjadi lumrah sekali dan didefinisikan secara biasa saja lewat sinetron-sinetron atau ftv. Cirinya sangat sederhana, deg-degan, keingetan si dia terus, sehari nggak kete...

Diary Laila: Tiba-Tiba dan Penanda

Gambar
Entah sejak kapan, aku menyukai sesuatu yang tiba-tiba. Sesederhana kejutan, Semacam pertunjukan di luar dugaan, Sejenis degup jantung yang tetiba berdegup sembarang … Entah sejak kapan, aku menyukainya. Seperti dulu ketika ibu bertambah usia, Kami siapkan kue tak lupa surat cinta, Terpajang elok di lemari yang selalu ia buka, Begitu menemukannya, Kutahu jelas ibunda sangat bahagia. Kejutan, Hal-hal di luar dugaan, Takdir. Baik suka maupun duka, Bagiku adalah sesuatu yang menakjubkan. Dengannya Rabb seolah memberi tanda: "Nyawamu ada dalam genggam-Ku." "Tenang, aku bersamamu." Dan berjuta ekspresi lain penanda cinta-Nya, Sebagai penjaga agar aku lulus dengan predikat juara, Di universitas kehidupan dunia.

Sudah Wisuda. Terus? [Part 2]

Gambar
Okay. Lanjut ke Part 2. Setelah kupas tuntas komentar saya yang nggak penting di bagian pertama , sekarang mari kupas tuntas komentar saya terhadap kalimat kedua dari kalimat: "Ini adalah langkah awal menuju perjuangan yang sesungguhnya, teh. Doakan kami semoga kami bisa segera menyusulmu :)" Doakan kami bisa segera menyusulmu. Eum.. gimana ya, bukannya nggak kepingin mendoakan agar kalian bisa cepet wisuda, bukan. Mungkin kalau mendoakan, saya lebih memilih mendoakan yang terbaik untuk kalian, adik-adikku. Kemarin kakak kelas saya ada yang update status begini: Hidup ini adalah perjuangan, perjuangan agar tetap dalam ketaatan kepada Allah (Musthafa Umar) From < https://www.facebook.com/rini.aprilia.54?fref=ts > Terus ada yang posting beginian juga: Lantas, hal apa yang membuat kita tidak bersyukur? Hayuu wujudkan bentuk rasa syukur kita, dengan membenahi hijab kita dan menjaga batasan-batasan Allah. Sebelum datang masa dimana kita su...

Sudah Wisuda. Terus? [Part 1]

Gambar
"Ini adalah langkah awal menuju perjuangan yang sesungguhnya, teh. Doakan kami semoga kami bisa segera menyusulmu :)" Saya melongo sebentar membaca kalimat-kalimat di atas. Kalimat yang tertata manis dalam sebuah cinderamata dari adik-adik kelas di organisasi kampus. UKM BAQI UPI, tahu kan? Itu lho, organisasi yang para anggotanya berkomitmen memberantas buta huruf Al-Quran di kalangan mahasiswa. Nggak kenal? Padahal saya yakin mereka orangnya kece-kece abis. Yah, memang sih mereka terlalu rendah hati. Ah, lupakan. Hari ini saya mau nulis tentang komentar saya mengenai kalimat di atas. Emang sebenarnya komentar saya nggak penting juga sih, tapi entah kenapa kalau baca kalimat di atas berulang-ulang rasanya ada suatu hal yang saya pikirkan di otak dan bisa gawat kalau tidak dikemukakan. Ya ampun, Fi..kapan masuk ke inti sih? Oh, oke, mari kita mulai..

Bahasa dan Ide Menguasai Dunia

Gambar
“Dan kita pun MENGUASAI DUNIA!! HA HA HA!!” Fairuz sejurus terdiam dengan tangannya lima senti lagi hendak memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Sambil telinganya terjaga untuk mendengar setiap kalimat yang keluar dari televisi, ia perlahan mengunyah sarapannya pagi itu. “Jangan takut! Aku adalah pembela kebenaran!” setelah itu sound effect CIAT! CIAT! pun mengikuti adegan superhero melawan kejahatan. Adegannya seru, dan pastinya superhero pada akhirnya menang. --- Secara pribadi, dialog “Akan menguasai dunia,” ini sering saya dengar dari berbagai kartun yang pernah saya tonton. Sudah tidak aneh. Bahkan lama-lama saya jadi parno karena illuminati yang dari dulu melaksanakan misi rahasia lewat kartun anak-anak. Jangan-jangan ‘Akan menguasai dunia’ adalah pesan mereka secara tidak langsung bahwa mereka memang benar-benar akan menguasai.” Nah. Sebelum mereka yang menguasai dunia, saya lebih baik yang menguasai dunia terlebih dahulu. Haha. Entah kenapa di akhir saya be...

Sinkronisitas

Saya pertama kali mendengar istilah ini dari salah satu judul cerpen berjudul sama yang ditulis Mba Dee dalam buku kumpulan cerpennya. Saya begitu tertarik dengan kata ini. Setidaknya dalam sehari saya pasti bertemu dengan sebuah peristiwa yang terangkum dalam istilah ini. Sebut saja namanya Budi, orang yang disukai Rara sahabat saya. Rara mengeluh ketika Rara berusaha melupakan Budi, justru ia malah semakin tidak bisa melupakannya. “Bayangin aja, tadi pas gue naik damri. Di jalan ada warteg namanya ‘warteg Budi’ gimana gue bisa lupa cobaa?” Lalu Rara pernah tiba-tiba teriak ketika membaca buku, “Oh My God! baca kalimat ini deh. Bacaa,” hebohnya sambil menyodorkan buku tentang etika. Di situ ada bab yang judulnya ditulis besar-besar: BUDI PEKERTI.  Haha. Yah, selain karena sinkronisitas, apa-apa yang dialami Rara tersebut juga karena nama ‘Budi’ itu termasuk pasaran (baca: banyak yang pakai), wajar kalau ketemu di mana-mana. Sejak tahu istilah ini, dari pada menyebut suatu...