Postingan

My Day #17: Bagaimana kabar imanmu hari ini?

Gambar
Sepanjang jalan dibonceng teman tadi sore memberikan waktu untuk saya berpikir. Berita Palestina menjadi penghias media sosial di hari-hari terakhir ini. Palestina tempat bayi-bayi terbunuh. Dalam sebuah surat dari Palestina untuk rakyat Indonesia disebutkan bahwa mereka heran terhadap bangsa Indonesia yang membunuh bayi-bayi mereka sendiri. Mayat bayi ditemukan di got atau dihanyutkan di sungai saya rasa di Indonesia kabar tersebut pernah mampir di telinga setiap orang. Di Palestina, setiap nyawa bayi berharga. Karena satu bayi berarti satu harapan untuk melanjutkan generasi. Satu bayi berarti satu prajurit tambahan untuk perang yang tak kunjung mati. Penulis surat tersebut heran, mengapa Indonesia yang mayoritas Muslim, menyia-nyiakan nyawa seperti itu? Saya pun tak begitu mengerti, pada awalnya. Di sini soal iman, bukan intelektual yang berbicara. Pasti pernah dengar juga berita mengenai seorang ibu alumni universitas ternama yang membunuh ketiga anaknya dengan alasan: saya t...

Asal Kata Pemilu = Pilu?

Gambar
Pemaparan agak aneh soal pemilu. Second opinion itu ternyata penting. Setelah nonton TV Series Sherlock Holmes , saya menyadari hal itu. Bahwa justru pendapat Watson, asistennya yang mengantar Sherlock ke inti penyelesaian sebuah kasus. Teori unik lainnya tentang opini pernah saya dapat juga dari Film The War of the World : “ The Tenth Man Opinion .” Hadoh, ada-ada aja sih, tapi masuk di akal juga dan menarik untuk dicoba. Teorinya seperti ini, jika dari 10 orang 9 orang berpendapat sama sedangkan hanya satu orang yang berbeda, maka justru pendapat yang harus diberi perhatian lebih adalah pendapat yang berbeda tersebut, pendapat orang ke-sepuluh. Oke, prolognya seperti itu. Nggak ada hubungannya sih sama apa yang ingin saya sampaikan berikut ini. Anggap aja itu pemaparan saya bahwa segala kemungkinan bisa terjadi dan sering itu diluar kendali kita sebagai manusia. Manusia selalu belajar bagaimana cara membuat rencana sesempurna mungkin hingga ke teknis, tapi jarang ada yang...

My Day #16: Bicara Cinta (lagi)

Gambar
Menyambung dengan definisi cinta versi saya di tulisan kemarin , rasanya akan bisa dipahami lewat kisah cinta melegenda Fatimah dan Ali. Cerita cinta mereka rasa-rasanya membuat yakin orang-orang yang menyimpan rapat dalam-dalam rasa cintanya kepada seseorang bahwa pada akhirnya usaha mereka akan berbuah manis. Dikisahkan keponakan Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib memendam rasa cintanya kepada sepupunya sendiri, Fatimah binti Rasulullah. Rasa cintanya ini tak pernah ia ungkapkan kepada siapapun, hingga ia memutuskan akan meminang langsung Fatimah sebagai istrinya di saat yang tepat. Namun, ujian bagi cintanya sudah dimulai ketika terdengar olehnya bahwa Abu Bakar Ash-Shidiq, sahabat Rasulullah yang keimanannya lebih berat dibandingkan keimanan ummat muslim jika disatukan, datang melamar putri Rasulullah tersebut. Ah, dibanding Abu Bakar, ia tentu tidak ada apa-apanya. Jadilah untuk sesaat ia merelakan dalam hati, mundur dari arena pertarungan, melesatkan ikhlas untuk Fat...

My Day #15: Bicara Cinta

Gambar
Tumben saya nulis tentang cinta, ya? Haha Intermezzo , saat iseng ambil quiz bertajuk,  "What gender is your brain?"  Hasil yang saya dapat cukup membuat saya istighfar. 57% Male, 43% Female Ini hasil apa-apaan coba T.T Yah, masih seimbang lah. (lhooo…ini bukan sesuatu hal yang harus disyukuri!) Mungkin kedua adik laki-laki saya ada andil mengapa hasilnya seperti itu, haha. Oke, lupakan. Next . Bicara cinta, definisinya bisa berjuta. Dari yang paling sederhana: merasakan debaran kalau bertemu doi, hingga yang tak logis: tak harus memiliki. Yang tak logis ini saya temukan kata padanan sehari-harinya: Ikhlas. Dulu waktu zaman SMP saya pernah membuat puisi yang isinya kurang lebih memproklamasikan bahwa saya tipe orang yang mudah jatuh cinta. Karena waktu itu istilah 'cinta' menjadi lumrah sekali dan didefinisikan secara biasa saja lewat sinetron-sinetron atau ftv. Cirinya sangat sederhana, deg-degan, keingetan si dia terus, sehari nggak kete...

Diary Laila: Tiba-Tiba dan Penanda

Gambar
Entah sejak kapan, aku menyukai sesuatu yang tiba-tiba. Sesederhana kejutan, Semacam pertunjukan di luar dugaan, Sejenis degup jantung yang tetiba berdegup sembarang … Entah sejak kapan, aku menyukainya. Seperti dulu ketika ibu bertambah usia, Kami siapkan kue tak lupa surat cinta, Terpajang elok di lemari yang selalu ia buka, Begitu menemukannya, Kutahu jelas ibunda sangat bahagia. Kejutan, Hal-hal di luar dugaan, Takdir. Baik suka maupun duka, Bagiku adalah sesuatu yang menakjubkan. Dengannya Rabb seolah memberi tanda: "Nyawamu ada dalam genggam-Ku." "Tenang, aku bersamamu." Dan berjuta ekspresi lain penanda cinta-Nya, Sebagai penjaga agar aku lulus dengan predikat juara, Di universitas kehidupan dunia.

Sudah Wisuda. Terus? [Part 2]

Gambar
Okay. Lanjut ke Part 2. Setelah kupas tuntas komentar saya yang nggak penting di bagian pertama , sekarang mari kupas tuntas komentar saya terhadap kalimat kedua dari kalimat: "Ini adalah langkah awal menuju perjuangan yang sesungguhnya, teh. Doakan kami semoga kami bisa segera menyusulmu :)" Doakan kami bisa segera menyusulmu. Eum.. gimana ya, bukannya nggak kepingin mendoakan agar kalian bisa cepet wisuda, bukan. Mungkin kalau mendoakan, saya lebih memilih mendoakan yang terbaik untuk kalian, adik-adikku. Kemarin kakak kelas saya ada yang update status begini: Hidup ini adalah perjuangan, perjuangan agar tetap dalam ketaatan kepada Allah (Musthafa Umar) From < https://www.facebook.com/rini.aprilia.54?fref=ts > Terus ada yang posting beginian juga: Lantas, hal apa yang membuat kita tidak bersyukur? Hayuu wujudkan bentuk rasa syukur kita, dengan membenahi hijab kita dan menjaga batasan-batasan Allah. Sebelum datang masa dimana kita su...

Sudah Wisuda. Terus? [Part 1]

Gambar
"Ini adalah langkah awal menuju perjuangan yang sesungguhnya, teh. Doakan kami semoga kami bisa segera menyusulmu :)" Saya melongo sebentar membaca kalimat-kalimat di atas. Kalimat yang tertata manis dalam sebuah cinderamata dari adik-adik kelas di organisasi kampus. UKM BAQI UPI, tahu kan? Itu lho, organisasi yang para anggotanya berkomitmen memberantas buta huruf Al-Quran di kalangan mahasiswa. Nggak kenal? Padahal saya yakin mereka orangnya kece-kece abis. Yah, memang sih mereka terlalu rendah hati. Ah, lupakan. Hari ini saya mau nulis tentang komentar saya mengenai kalimat di atas. Emang sebenarnya komentar saya nggak penting juga sih, tapi entah kenapa kalau baca kalimat di atas berulang-ulang rasanya ada suatu hal yang saya pikirkan di otak dan bisa gawat kalau tidak dikemukakan. Ya ampun, Fi..kapan masuk ke inti sih? Oh, oke, mari kita mulai..