Maka hari itu akan tiba, Ketika setiap rumah membuka pintu, Ketika setiap sapa dan salam menyahut merdu, Dan yang keluar dari setiap lisan hanyalah : do’a yang syahdu. Pernah suatu hari aku dan temanku sepulang dari mabit bersama di Masjid Daarut Tauhid, menikmati udara segar di pagi hari dengan berjalan-jalan di sekitar area kampus. Di Pondok Hijau tepatnya. Perumahan nan asri dengan banyak hehijauan yang mengelilingi. Selama berjalan kami pun mulai bercerita tentang banyak hal. Tentang wanita dan apa saja yang dikhawatirkannya, tentang hehijauan yang terhampar yang bisa jadi terapi untuk mata, hingga sampai di pembicaraan tentang rumah yang berawal dari komentar-komentar kami soal rumah-rumah yang ada di sana. Dari sinilah khayalan kami mulai berkembang. Bagaimana jika nanti di masa depan, kita bikin kavling sendiri khusus pengurus UKM BAQI UPI. Nanti kita bisa saling bertetangga dan menyapa setiap harinya. Lalu anak-anak kita saling berlomba soal hafalan dan ibadahnya,...
After effect baca bukunya @maswaditya bawaan adik. Judulnya agak nyeleneh, nambah butir Pancasila dengan Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati! Tiap habis baca buku ini, meski bacanya nggak berurutan, entah kenapa 10 menit pertama tuh efek sampingnya dahsyat banget. Mulai dari nyari kertas, corat-coret sesuatu yang sesuatu banget, sampai ide bikin gerakan #IndonesiaBerubah ini tercetus. Nggak jauh beda dengan pemikirannya mas waditya yang yakin sebenernya semua orang itu bisa kreatif, termasuk orang-orang Indonesia, cuma pada malas aja, termasuk saya, hehe. Dan paginya disuguhi artikel terbaru mba murniramli (mas dan mba ini bener-bener jadi inspirasi saya). Tahukah anda bahwa ada sebuah SD di Jepang yang menerapkan target membaca untuk murid-muridnya sebanyak 10000 buku pertahun? Kalau diitung-itung 10.000 buku coy, dibagi 12 bulan.... 833 buku perbulan! Dibagi lagi 30 (perhari) jadinya...itung aja sendiri, saya aja langsung nelen air 1 galon.
Di segmen Japan! ini saya akan berbagi kepada para pembaca mengenai hal-hal tentang Jepang beserta hikmah yang bisa kita ambil. Saya mulai dengan ini: Kertas di atas tertempel di setiap kelas di tempat saya mengajar. Sebagai tenaga pengajar yang baru, saat 見学 ken-gaku (observasi) ke beberapa kelas, dibanding melihat cara guru yang sudah ada mengajar, saya lebih tertarik membaca tempelan-tempelan yang berjejer rapi di dinding setiap kelas. Kanjinya mudah dibaca, cuma kanji setelah huruf 感 ( kanjimasu ) itu agak menganggu saya karena terlalu banyak coretannya (hehe). “Sensei merhatiin apa?” guru kelas tersebut tiba-tiba menegur saya. “Ano, itu.. kanji kansha bukan ya?” “Ya.” “Artinya bagus ya.” “Ya. Itu sachou-san yang buat.” (sachou:kepala perusahaan) Saya manggut-manggut senyum, kini saya mengerti maksudnya. Ah, entah mengapa saya merasa menemukan inti dari hidup saat membacanya. Penasaran?? Saya akan bahas setiap kalimatnya.
Komentar
Posting Komentar